Saat ini, saya merasa sangat miris melihat keseharian orang-orang yang mengaku bersuku Jawa. Bagaimana tidak, segala sendi-sendi budaya Jawa yang adhiluhung sudah musnah dari hati sanubari masyarakat Jawa saat ini. Bayangkan, dari sisi penggunaan bahasa saja, ditemukan bahwa orang Jawa sekarang MALU menggunakan bahasa Jawa, lebih menyukai bahasa Indonesia sebagai bahasa percakapan. Hal ini patut disesali, terutama melihat bahwa bahasa Jawa totok (bahasa Jawa Keratonan/Bagongan) dan bahasa Jawa Krama sudah hampir menghilang dari peredaran. Mudah-mudahan bahasa Jawa Ngaka tetap tidak sampai mengekor menjelang ambang kepunahan…
Belum lagi melihat penggunaan pakaian Jawa. Alih-alih menggunakan kebaya sebagai pakaian asli Indonesia, orang Jawa lebih suka memakai pakaian yang “kebarat-baratan” dan benar-benar MENGUMBAR AURAT yang tidak sesuai dengan budaya ketimuran yang telah dijunjung tinggi oleh orang-orang Jawa dahulu. Saya, jujur, merasa iri dengan suku bangsa Melayu yang tetapbisa mempertahankan eksistensi Baju Kurung dalam kesehariannya. Bahkan yang dikenal orang Jawa sebagai “busana muslim” adalah sebenarnya modifikasi dari baju kurung Melayu. Saya jadi berpikir, orang Melayu bisa, mengapa kita orang Jawa tidak bisa?
Ah… Semoga saja orang Jawa leluhur kita tidak melihat keseharian orang Jawa masa kini. Tentu mereka akan menyesal, generasi mereka tidak menghargai hasil karya yang telah mereka buat dengan susah payah…


apakah dengan demikian, panjenengan mau ngeblog dengan bahasa jawa juga?
Oleh: bumisegoro on Jumat, 23 November 2007
at 10.07
aku kadang bingung Yik…
sebenernya yang dimaksud budaya indonesia itu yang manaaaa???
orang pake tengtop dihujat, dituduh ndak menghormati adat istiadat… lha, pakaian adat bali yang kayak gitu apa ndak masuk budaya kita?
ehm… malah kalo aku denger cerita cerita alm kakungku, dulu sekali…(maaf, aku kurang sepakat ttg pakaian yg dimaksud) pakaian asli jawa ya kemben itu… kemben sama jarit…
Nah… bisa jadi leluhur kita menyesal generasi mereka tidak menghargai hasil karya yang telah mereka buat dengan susah payah…
ah…buatku… silakan mau macak kayak apa aja. asal jangan telanjang aja…
Oleh: Swiwi™ on Sabtu, 24 November 2007
at 9.42
> Swiwi TM
Lah kan mending pakai kemben tapi bawahannya ketutup semua sampai mata kaki, daripada yang sekarang, pakai (maaf) BH thok + bawahan rok mini… Selain nggak sesuai budaya ketimuran juga “gak pantes disawang”…
> bumisegoro
Lha, misale njenengan kajeng, nggih mboten napa-napa… Tak gawekna-takgawekna….
Oleh: Arif Budiman on Sabtu, 24 November 2007
at 12.08
masalahnya adalah, budaya merupakan sesuatu yang akan terus berkembang, kita tdk mgk to mempertahankan sesuatu seperti itu2 terus, mgk kesalahan kita adalah, mengadopsi budaya yang tidak menguntungkan bagi perkembangan budaya lokal kita sendiri ….
Oleh: mirws on Kamis, 29 November 2007
at 12.55
>mirws
Ya sih…
Namun setidak-tidaknya tidak serta-merta meninggalkan budaya itu sendiri. Jepang misalnya, berhasil menyelaraskan nilai-nilai kebudayaannya dengan teknologi mutakhir yang ada. Malaysia juga. Jadi, bila Jepang dan Malaysia saja bisa, kenapa kita tidak?
Oleh: Arif Budiman on Jumat, 30 November 2007
at 10.21
Ada beberapa hal yg setuju nih mas … Saya sendiri hanya memakai jowo ngoko. Alasannya karena kurang dilatih memakai kromo inggil waktu kecil dulu; bukan karena malu, krn hingga hari ini dimanapun saya tetap memakai bahasa jawa kalo ngobrol. Bahkan di California bbrp waktu lalu ketemu org Malang. Jadi ya langsung ngomong Jawa
Kalo di rumah (SGP) sehari2 ya ngomong jawa dg garwo … dg anak jg iya (cuma sayang dia blm bisa ngomong).
Ada banyak kata yg masih perlu mengadopsi bahasa ibu (Inggris/Indonesia) mengenai teknologi dan sains, dan sangat sulit mencari padanan dlm bahasa Jawa. Jika ada padanan, barangkali saya akan memakai bahasa Jawa. Dlm hal ini perlu meniru bahasa Kanji.
Pemakaian baju yg kebarat2an sudah terjadi di negeri manapun; tidak hanya di Indonesia, khususnya Jawa. Ini konsekuensi arus informasi yg demikian kuat dari barat. Org awalnya meniru, tapi lama-lama jadi kebiasaan. Tapi menurut saya boleh saja tidak berpakaian Jawa, asal tidak membuat org di lingkungannya terganggu dg gaya berpakaian “terbuka” seseorang.
Orang Melayu (di Singapura) tidak memakai baju kurung dalam kesehariannya; hanya pada saat2 tertentu saja: kalau ada jemputan (undangan kawinan), pas sembahyang jumat (mungkin hanya 50%), pas hari raya, pengajian.
Pakaian spt halnya ikon budaya lainnya mengalami evolusi dan adaptasi; dalam proses adaptasi, ia bisa mengalami kepunahan. Mungkin saatnya bagi kita yg muda2 melakukan konservasi budaya … apa saja yg penting bisa dilakukan ….thanks.
Oleh: ari3f on Kamis, 3 Januari 2008
at 1.01
eh opo pakaian jawa, dengan kebaya yang transparan iku gak termasuk mengumbar aurat?
Oleh: dukunesse on Kamis, 3 Januari 2008
at 22.25
sebelumnya saya minta maaf, karena saya baru bisa masuk untuk mencoba mencari bahan untuk kuliah, bisa minta tolong untuk memberikan berbagai pandangan mengenai pengaruh-pengaruh agama suku dalam masyarakat jawa untuk masa kini.baik saya akan tunggu jawaban dari anda dan itu yang sangat saya butuhkan terima kasih dan salam kenal dari pengunjung baru.
Oleh: mas Triyuni on Rabu, 9 April 2008
at 17.18
yup, keprihatinan yang sama mas, makanya saya dan beberapa temen akhirnya mbuat blog
http://kawruhjawi.wordpress.com
Oleh: mtamim on Selasa, 13 Mei 2008
at 9.15