Melihat berita di televisi tentang penggusuran di Bantul, Yogyakarta, membuatku terenyuh. Melihat banyak orang menangis, meminta supaya rumahnya tidak digusur… jadi ikut sedih juga, dan terbayang-bayang seandainya aku yang berada di posisi tersebut…
Yang tidak saya terima adalah katanya tanah itu adalah milik Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang mau dipergunakan sebagai daerah usaha… Setahu saya, Keraton sangat pro terhadap rakyat kecil, tapi kenapa saat ini lain ya(?), hanya gara-gara tanahnya ditempati saja main gusur. Lagian, kalau sudah tahu itu tanah milik Keraton, kenapa menggusurnya kok tidak dari dulu-dulu sebelum ditempati…Kok baru setelah sepuluh tahunan ditempati baru digusur? Aneh kan?
Lah, yang jadi masalah juga adalah para korban penggusuran. Bukankah akan menjadi bumerang bagi Keraton sendiri, bahwa para korban akan menjadi gelandangan dan malah akan merusak wajah Ngayogyakarta sendiri? Saya kira, walaupun wajah Ngayogyakarta penuh pusat perbelanjaan, usaha atau apalah istilahnya yang ditujukan untuk menarik banyak investor masuk, jikalau banyak gelandangan apatah investor mau masuk dan berinvestasi?
Mbok ya Sri Sultan harusnya tahu…


Sssttt jangan berisik, mbah kita lagi menghadap malaikat…..diadili di kuburan
Oleh: pgmiunyb on Senin, 28 Januari 2008
at 14.07
lho bagus itu… ambil segi positifnya aja. paling ngga keraton punya lahan parkir buat “kuda”
Oleh: Matt De Stupid King on Senin, 28 Januari 2008
at 17.35
ya resiko lah numpang di tanah orang tanpa ijin. harusnya sadar diri dan dah siap-siap kena gusur sejak awal menempati. kenapa “digusur setelah bertahun-tahun dihuni”? ya, beruntung juga dikasih kesempatan menghuni gratis selama bertahun-tahun, ya toh??? yoi. setuju ma matt, ambil positifnya aja…
Oleh: nuha85 on Selasa, 29 Januari 2008
at 7.08
saya setuju dengan komen tepat diatas saya ini!
kadang juga heran, kenapa mereka merasa memiliki padahal tak punya bukti sah untuk menempati, siapa yang salah, tentu oknum yang menempati mereka disana, lagi-lagi ketidak tegasan aparat.
lanjut nanti…heehhehe…
Oleh: peyek on Selasa, 29 Januari 2008
at 10.12
>Semuanya
Iya, memang salah yang nempati, tapi mbok ya a jangan main gusur saja dong. Pikirkan dulu solusinya buat yang digusur ini seperti apa…
Renungi:
Kenapa sih dia nempati tanah itu? Karena tidak punya tanah, bukan? Kenapa kok tidak punya tanah? Tanya kenapa?
Oleh: Arif Budiman on Rabu, 30 Januari 2008
at 23.04
Hidup keadilan
Oleh: Watuitem on Kamis, 31 Januari 2008
at 10.19
cakep deh.. eh maksudnya capek deh, soal salah atau benar itu tergantung dari sudut mana kita memandang. kalo memandangnya dengan cara Thinking ya wajarlah digusur, kan bukan hak mereka. tapi kalo dari segi feeling atau perasaan, bukannya mereka juga rakyat keraton itu, seharusnya keraton berkewajiban memelihara rakyatnya, paling tidak carikan solusi alternatif dulu lah sebelum digusur..
ngomong-ngomong soal penggusuran, di kampusku sepertinya juga akan ada penggusuran, yakni sekretariat UKM yang ada di ITS akan segera digusur, karena
kata pihak atas sanagedungnya udang mau roboh dan mau dialih fungsikan, masalahnya belon ada solusinya kayak di ngayogyakarto ituOleh: scouteng on Kamis, 31 Januari 2008
at 22.25
nah emang mereka rakyat indonesia atau rakyat keraton yo??? kok jd bingung aku…
Oleh: Matt De Stupid King on Kamis, 31 Januari 2008
at 22.58
mungkin perlu ditelusuri lebih jelas siapa mereka dan gimana sampe nempatin tanah itu. kalo tanpa ijin tentunya memang hak pemilik tanah untuk mengusir. cuma, masalahnya dulu kok mereka didiamkan saja? begitu merasa sudah tergantung dengan lahan tersebut, tiba-tiba disuruh pergi. gimana njeng Sultan? *ah emang baca apa?*
Oleh: sitijenang on Jumat, 1 Februari 2008
at 1.14
kira-kira tulisan ini dibaca sama pak dhe sultan ora??kalo ora yah……
->>> scouteng
beda urusan jeh antara UKM n rakyat jelata yang kegusur itu…
->>> yg msh ’sebel’ ama penggusuran
tau sendiri, rajel kalo diomongin baek2 malah keduluan emosi n bandelnya. memang anda tau bagaimana proses penggusuran itu terjadi secara detail? tentunya para kubu sultan juga mempertimbangkan secara perasaan n logika
aku gak tau juga ya…mereka yg tergusur itu pendatang ato pnddk aseli, kl pendatang dah tau dikota suseh lha knp g pulang ke kampung
auah…intine, makanya jgn tergantung bgt ma orang laen, jgn jg ngaku2 n menyepelekan birokrasi, klpun dah lama ditempati sjk jaman purba, tapi gak ada bukti tertulis ttp aja gak sah. gimana???
Oleh: noe on Jumat, 1 Februari 2008
at 9.45
Hehehe… bukannya saya membela yang digusur… Namun saya mencoba untuk memandang masalah ini dari dua sisi, dan yang saya lihat akan lebih banyak kerugiannya pada pihak penggusur…
Oleh: Arif Budiman on Jumat, 1 Februari 2008
at 16.39
>>>arif
hanya persepsi…
Oleh: Matt De Stupid King on Minggu, 3 Februari 2008
at 18.01
He..he…
Bagus masih ada yang peduli sama WONG CILIK…
Tapi….
Gak biso Grusa-grusu lan Srudak-sruduk toh Mas…??
Ada aturan mainnya, Ojo mentang2 Keraton Pro Kawulo Alit lantas diartikan bahwa wong CILIK biso sak Kepenak-e udele dhewe manggon lahannya Orang….iki sing perlu DIMANGERTENI to..??.
Jadi….ternyata kita hanya bisa jadi PENONTON lan sambil…NGELUS DHODHO MENTHOK..he..he..
Oleh: Santri Gundhul on Senin, 4 Februari 2008
at 10.17
>>> santri gundhul
salut buat pemikiran om…
klo aku cewek aku kasih muach2 deh…
Oleh: Matt De Stupid King on Selasa, 5 Februari 2008
at 3.42
>Matt de Stupid King
Huek… Byor… Gak kolu Mat…
Oleh: Arif Budiman on Selasa, 5 Februari 2008
at 19.40