Oleh: Arif Budiman | Senin, 3 Maret 2008

Dalam Keterdiaman


Diam
Hanya bisa diam
Duduk terdiam
Berdiam
Selalu saja diam

Lalu diam…
Akankah semua terdiam?
Melihat aku diam?
Diam?
Tidak! Jangan diam!

 Surabaya, 3 Maret 2008

– Arif –


Tanggapan

  1. Diam berarti mati !

    Maka bergeraklah
    meski harus merangkak

    [salam kenal dari saya]

  2. Bicaralah jangan diam…
    Ngeblog lah…jangan diam!!!

  3. Adanya GERAK bermula dari DIAM…
    Jadi mana yang dulu…??
    Diam atoh Gerak…??

    Diam adalah TAFAKUR…
    Gerak adalah Mengisi kehidupan ini
    Maka bergeraklah dengan SALAM….
    Lalu…DIAM…sebagai JIWA yang TENANG
    Menanti MAUT menjemput dalam DAMAI….
    Gerak sudah tak ada lagi…
    Yang ada cuman HENING…Manunggal…
    DIAM dalam BALUTAN Asma, Sifat dan Af’Al-Nya..

    Ngelimpruk….koyo Sarung…

  4. yo…spakat sama 3 komen di atas saya ini

  5. loro untu? yo wes menengo hehehe

  6. >syelviapoe3
    Mending ngesot saja kaya suster ngesot… :lol:

    >indra1082
    Setuju!!! Dukung Mas Indra!!! Nah lo…

    >Santri Gundhul
    Diam adalah ruh kebergerakan. Bukan karena tidak bisa bergerak kita diam, namun kita diam untuk menyiapkan pergerakan… Dan benar, pergerakan itu adalah untuk mengisi kehidupan…

    >nuha
    Setuju apanya?

    >Tumes_semuT
    Dudu lara untu, tapi lara ati, maca komentare Njenengan… *dikejar sama mas Tumes_semuT sambil bawa golok*

  7. diam itu mungkin emas..tapi boleh jadi juga cemas


Beri tanggapan

Your response:

Kategori