Baru saja buka situs Pesantren Virtual. Lihat situs Al-Misykat kok tampilannya berbeda, aku sedikit bingung. Maklum, sudah lama tidak membuka situs Al-Misykat. Biasa membuka situs-situs yang tidak jelas saja, hehehe…
Tebersit juga keinginan untuk mengaji lewat dunia maya. Lah, kira-kira efektif dan istikomah tidak ya? Aku jadi sangsi sendiri. Soalnya kan tidak ada yang mengikat untuk belajar… (kalau di pondok, kan mau tidak mau harus mengaji…)
Jadi ingat pesan Bapak dulu. “Yik, kalau bisa besok pas kuliah kamu cari pondokan ya, biar kamu belajar ilmu agama di samping belajar ilmu eksakta juga… Selain itu biar kamu lebih mandiri, agar tidak seperti ini…” Waktu itu aku berjanji benar-benar akan mencari tempat mengaji di sini, soalnya aku memang ingin sekali belajar ilmu agama. Aku sadar, kalau selama 6 tahun aku tidak menyentuh buku agama sama sekali, makanya kesempatan kuliah ini aku bertekad untuk bisa mondok dan bisa mengaji (serta ingin bisa Bahasa Arab juga).
Namun, apa yang terjadi di luar perkiraan. Aku tidak menemukan pondokan yang pas dengan keyakinanku (pondokan Salafi maksudnya). Yang terdekat katanya cuma ada di Medokan Semampir, yang jaraknya kira-kira lima sampai tujuh kilo (atau lebih? Soalnya tidak tahu sih…
) dari kampus. Di dekat kampus cuma ada pondokan Salafi khusus pelajar, dan yang untuk mahasiswa cuma ada pondokan dengan ajaran-ajaran yang benar-benar tidak cocok dengan keyakinan saya. Walhasil, rencana mondok saya batal.
Kemudian… Tak lagi terpikir untuk ngaji. Pernah sekali aku menemukan kitab Riyadhush-Shalihin — terjemahan bahasa Jawa Pego — di Musala PPNS. Langsung saja waktu itu kufotokopi semua. Pada awalnya sih aku bertekad untuk menghabiskan isinya, tapi lama kelamaan jadi malas juga. Akhirnya buku itu nglimpruk di rak buku.
Belajar Quran saja malas, apalagi belajar kitab Salaf! Lah, untuk saat ini, aku bertarget untuk mencicil sedikit-sedikit ilmu agama dengan mengaji Quran. Sekalian kan aku sering jelajah internet, mungkin sedikit-sedikit ngaji lewat situs internet bisa menambah pengetahuan agamaku. Hehehe, keep on spirit to learn!


Assalaamu ‘alaikum, bang…
Kayaknya ceritanya seperti yang ane alamin juga nih bang… semangat buat ngaji sering naik turun, kadang kalo lagi menggebu-gebu, majelis taklim ama dauroh didatengin penuh semangat ‘45. Tafi pas lagi males, jangankan ikutan pengajian… baca buku yang ada di kamar malesnya minta amfun
Sepengalaman ane nih bang, belajar lewat internet bagus juga. Ane juga sering dapet kiriman artikel dari pesantren virtual.
Oleh: Cabe Rawit on Selasa, 11 Maret 2008
at 8.01
ngaji itu dari diri sendiri. kalo motivatornya bapak, (kayaknya sosok satu ini pening banget buat kehidupan kaumpatriarkat, termasuk saya) ya sama aja boong. sama kaya saya juga ding. saya malah minta motor sebagai syarat untuk mondok nyambi kuliah (kebalik kayaknya ding). tapi, so far, bapakku juara satu sedunia
Oleh: fay on Selasa, 18 Maret 2008
at 13.57
kehadiran mahluk sejenis kita lebih menjadi makna ketimbang postingan dari yang bangsa2 virtual. saya yang langganan dari pesantrennya aa gym, ja males bukanya. kayak udah pernah, gitu.
mrasa udah bisa, padahal disuruh baca aja masih gothal gathul. tapi ini tidak saya posting di blog saya(http://fayray.wordpress.com/) sebab takut dibilang riya’.
Oleh: fay on Selasa, 18 Maret 2008
at 13.59
ayo ngaji yuk
Oleh: Tumes_semuT on Selasa, 18 Maret 2008
at 21.19
Ceritanya menarik juga ya…? Tepuk tangan dulu buat anti yang masih punya semangat buat ngaji. Kalo saya sih keseringan ngaji dengan alam, terutama kawasan pasar mranggen.
Oleh: ali muhson on Senin, 16 Juni 2008
at 16.14