Hahaha, jadi ingat beberapa saat yang lalu. Membaca dua media yang berbeda, yang menampilkan dua sudut berbeda dari satu berita. Yang diulas adalah masalah Ayu Azhari yang membaca puisi di depan M. S. Kaban, menteri kehutanan kita. Yang satu, Jawa Pos, lebih mengulas kepada pengalaman Ayu membaca puisi (walaupun juga sedikit mengulas tentang busana yang dipakai Ayu dengan pertanyaan: “Memang tidak risih kalau berpakaian seperti itu?”). Sedangkan yang lain, Memo, langsung menggigit dengan kepala berita yang membuat aku terpingkal-pingkal kegelian sampai mau muntah, yang berbunyi kira-kira “Ayu Tidak Pakai Bra Saat Membaca Puisi di Depan M. S. Kaban”!!! Waw…
Membandingkan antara keduanya, aku jadi berkesimpulan begini: Ternyata hanya karena pencapir(pendengar, pembaca, dan pemirsa)-lah yang membuat media itu ada, dan mau tidak mau media harus mengikuti keinginan segmen pencapir tersebut. Ya, contohnya seperti dua media tadi. Aku menganggap memang Jawa Pos baik dengan mengulas berita dari sisi tersebut. Namun, aku menduga juga bahwa hal tersebut dilakukan hanya agar Jawa Pos tidak tercoreng namanya oleh pembacanya dengan menampilkan berita “gaya” tersebut. Seandainya memang kenyataannya berita yang Memo muat benar-benar benar adanya, aku sangsi sekali kalau Jawa Pos akan memuatnya juga.
Dan aku memandang dari kenyataan itu, bahwa media tak ubahnya sebagai tukang gosip, mengolah-alih berita dengan seenaknya sendiri. Kadang bahkan sampai tidak bisa dipertanggungjawakan kebenarannya, atau mungkin sampai melanggar batas kewajaran (seperti Memo tadi, lah kalau memang Ayu tidak pakai bra, tidak boleh? Bukankah itu hak Ayu pribadi, memakai bra atau tidak?).
Kalau memang berniat untuk menampilkan berita yang murni benar, ya tampilkan apa adanya, namun dengan pengemasan yang baik supaya tidak ada pihak-pihak yang tersinggung dengan pengemasan berita yang seperti itu. Dan, tidak usah takut ditinggalkan pencapir karena menampilkan berita yang tidak sesuai dengan selera sang pencapir. Tapi lain lagi kalau memang niatnya hanya untuk uang, uang, dan uang…












