14 Agustus lusa, Gerakan Pramuka sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-47. Di usia yang sudah menjelang setengah abad tersebut, harusnya Pramuka sudah mampu berkembang menjadi organisasi yang “dewasa” dan “matang”.
Namun, impian hanyalah tinggal impian. Pramuka sekarang hanya meninggalkan gigi yang ompong alih-alih gigi taring yang menjulang tajam. Bahkan, yang lebih parah, beberapa orang mungkin akan terkena sindrom muntah-muntah dan mual-mual bila mendengar nama Pramuka. (Memangnya Pramuka itu pemicu mabuk kendaraan ya?
)
Ah, Pramuka… Riwayatmu kini… Tragis memang. Di satu sisi, masyarakat memandang dengan sebelah mata yang bahkan dipicingkan juga, di sisi lain anggota-anggotanya juga abai terhadap kelangsungan hidupnya. Klop lah…
Mungkin beberapa orang (terutama yang masih chauvinis terhadap Pramuka karena “kecinta-butaannya”) akan menyanggah pernyataan saya tersebut. Masakan sih, anggota Pramuka yang loyal seperti ini abai? Ah… Loyal apanya…
Hanya selang beberapa hari yang lalu, tepat malam menjelang hari ulang tahun Pramuka yang ke-47, saya mengikuti ulang janji di Lemdikacab (Lembaga Pendidikan Kader Cabang) Kotamadya Surabaya, di daerah Karah. Saya mengikuti bersama dengan teman-teman dari Gugusdepan saya. Dan, di situ saya mendapati pemandangan yang begitu mengkhawatirkan. Beberapa orang, bahkan sebagian besar, pembina dan pandega (beberapa di antaranya adalah pembantu pembina) yang sebenarnya bisa dianggap sudah mumpuni dalam hal kepramukaan – dengan dilihat dari cemrenthel-nya badge di sana-sini di baju seragamnya, juga beberapa orang mengenakan selempang mahir berwarna ungu batik yang menandakan sudah mengalami yang disebut “Kursus Mahir”, dan sebagainya – menunjukkan hal-hal yang tidak patut dicontoh, bahkan oleh adik-adik didik sekalipun. (Untungnya, yang ikut ulang janji cuma anggota dewasa dan dewasa muda saja). Nah, di situ, saat apel ulang janji dilaksanakan, beberapa anggota masih saja mengobrol di sana sini, tidak mengindahkan protokoler yang sudah membacakan naskah susunan acara. Juga, sebelum acara selesai para pembina dan pandega tersebut sudah berhamburan ke sana ke mari bagai bebek kehilangan penggembalanya. Pantaskah mereka disebut sebagai Pandega? Pantaskah mereka dipanggil Kakak Pembina???
Kemudian pasti akan timbul pertanyaan, dari mana hubungannya? Apakah itu bisa membuktikan ketidak-loyalannya? Saya jawab: ya. Hal itu akan bermakna bahwa “banyak anggota Pramuka yang sudah tidak menganggap bahwa upacara atau apel adalah sakral dan abai akan esensi makna dari apel itu sendiri”, dan itu artinya juga abai terhadap aturan apel dalam Pramuka, selanjutnya bisa diartikan juga abai akan Pramuka. Sudah gamblang runutannya?
Ya. Saya yangat kasihan kepadamu, Pramuka. Padahal dirimu sudah mempunyai visi dan misi yang besar untuk memajukan bangsamu, namun begitu bahkan anggotamu saja tidak sanggup mengemban misi besarmu itu. Ya, semoga di 50 tahunmu nanti tidak akan sampai tanggal semua gigimu… Atau mungkin akan malah tanggal nyawamu???


met ultah pramuka.
semoga sukses…
Oleh: mybenjeng on Sabtu, 16 Agustus 2008
at 13.33
hari pramuka sama gak sih sama hari pandu sedunia
Oleh: hanggadamai on Minggu, 17 Agustus 2008
at 22.28
saya dulu pramuka… sekarang ga lagi, maap.he
Oleh: ahsani taqwiem on Senin, 25 Agustus 2008
at 7.55
> mybenjeng
Kuenya mana?
> hanggadamai
Beda. Kalau hari Pramuka itu memperingati didirikannya Gerakan Pramuka Indonesia saja
> ahsani taqwiem
Aku dulu gak ikut Pramuka, sekarang malah ikut ye…
Oleh: Arif Budiman on Kamis, 28 Agustus 2008
at 18.39
salam Pramuka…
Ente siaga Apa Penggalang????
hehehehehe
Oleh: indra1082 on Jumat, 29 Agustus 2008
at 6.35
salam pramuka,mas
sdh lama aku gak mampir keruang katamu ini,mas.
apa khbr?
salamku
Oleh: langitjiwa on Senin, 1 September 2008
at 21.33