Oleh: Arif Budiman | Senin, 26 November 2007

Reog dan Sang Pahlawan

Malaysia membuat ulah lagi. Setelah Sipadan dan Ligitan, menyusul Ambalat, batik, lagu “Rasa Sayange”, angklung, dan menyusul sekarang reog yang diakui menjadi aset negaranya. Mungkin inilah naluri keibuan dari Malaysia untuk mengemong dan merawat aset-aset negeri kita yang, memang tidak dirawat dan bahkan disepelekan oleh masyarakat kita sendiri. Memang Malaysia tidak bisa disalahkan…

Dan untunglah kita mempunyai sebuah mukjizat, mukjizat yang tiada pernah dihargai semasa hayatnya, dialah pekerja budaya…

Cobalah bayangkan, bilamana tidak ada mereka, tentulah Rasa Sayange, angklung, dan reog, sudah jatuh ke tangan Malaysia, bukan??? Tidakkah mereka juga seorang pahlawan, pahlawan kebudayaan??? Namun apa yang kita balas terhadap mereka??? CEMOOHAN, CACIAN, MAKIAN, SEMUANYA…

Ingatkah kita akan satu pepatah, “bangsa yang jaya adalah bangsa yang menghargai pahlawannya”…??? Dan tidak satupun dari kita menghargai pejuang kemerdekaan, apalagi pejuang budaya… Manalah kita akan menjadi bangsa yang jaya kalau seperti demikian???

Hargai walau cuma sedikit saja kerja keras mereka menyelamatkan aset negeri kita. Mereka tidak butuh materi, namun lebih butuh uluran tabik, dukungan dan semangat dari semua lapisan masyarakat… Atau, masih relakah Anda-anda sekalian kehilangan segala aset bangsa kita? Tentulah tidak…


Responses

  1. Ayo sama2kita jaga dan kita cintai budaya seni milik bangsa kita biar nggak diserobot lagi ma negara tetangga…Nggak rela banget kalau reog ponorogo diaku-aku milik bangsa laen…

  2. lagi2 malingsia. rasa2nya mereka sudah kehabisan budaya sampai2 perlu mencuri dari kita.

    Padahal serumpun tapi ngelunjaknya minta ampun. Pantas aja… Ganyang Malingsia.😦

  3. Ya, benar sih…
    Tapi nggak juga bisa disalahkan…
    Lha wong kita sendiri tidak mau ngopeni…

  4. Rasanya nggak rela banget kalo reog Ponorogo diaku-aku jadi milik negara laen…so mari kita cintai dan kita jaga budaya kita yang indah ini…jangan sampek kecolongan lagi dech…

  5. >boedigoen n heniwisma
    Yupz… Seandainya saja kita bisa mencintai budaya kita sendiri dan mengembangkannya, pasti akan jadi suatu aset yang berharga dan dapat dijadikan suatu komoditas pariwisata yang berdaya jual tinggi, kan sukur-sukur kalau bisa dibuat bayar hutang kita yang menumpuk-numpuk ituπŸ˜† . Jadi, intinya, CINTAILAH BUDAYA NUSANTARA KITA….πŸ˜€

  6. hm… kalo kayak gini terus, kayaknya kita perlu mematenkan banyak hal mulai dari urusan budaya (kesenian) sampe makanan……

  7. >nuha85
    Ya iyalah… Masa tidak mau belajar dari kesalahan yang telah lalu…
    Apa mau lagi, Damar Kurung atau Pudhak dipatenkan sama Malaysia???πŸ˜€

  8. gimana kalo budaya di lelang saja hak patennya, buat bayar utang.. sepertinya lebih asik.. nanti tinggal masukkan di buku sejarah “Itu DULU budaya kita”

  9. >scout_eng
    Wah, ngge login-e sapa iku….
    Bagus juga idenya… Tapi, ingat bahwa KEBUDAYAAN dan PERADABAN adalah HARTA YANG TIADA TERNILAI HARGANYA….

  10. he……wong MALAYSIA!!!,jo KEREaktif nemen ginio?,,budayaku…zo budayaku,,BUDAYAMU….GAWEO DHEWE!!!..jo sakpenak udelmu ae ngakon-ngakoni nakane wong,,COZ,NI SUARA ANAK KOTA…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: