Oleh: Arif Budiman | Rabu, 27 Februari 2008

Inikah Aku?

Sebuah kemenduaan barangkali kalau aku menanyakan kembali “Siapa aku?”, padahal aku sudah menulis tentang siapa aku. Ups, bukan itu maksudku…

Secara lahir mungkin aku sudah tahu tentang siapa aku sebenarnya. Namun secara batin belum tahu. Sekarang hal itu berputar-putar dalam otak besarku: “Aku ini siapa? Aku ini apa? Aku ini kenapa?”

Krisis identitas diri. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisiku saat ini. Sebuah kekacauan pribadi yang, entah kapan selesainya. Mengingat-ingat keadaan diri yang, huh, jauh dari normal.

Berbagai kejadian yang menimpa diriku kupertanyakan kembali sendiri. Mengapa itu terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasinya? Kenapa aku begitu lemah? Dan seterusnya semuanya memenuhi isi kepalaku.

Kadang aku mencoba untuk membandingkan diriku dengan orang lain yang ada di sekitarku, dan pasti akan timbul gumaman “Yah, kenapa dia bisa begitu? Sedangkan aku kok tidak?” dan akan kembali membuat hatiku bergejolak untuk ingin seperti dia. Setelah itu aku akan — sering sekali — menyesal dengan keadaanku yang sekarang. Dan kadang aku merasa kecewa sendiri — kadangkala kecewa berat — jika semuanya tidak berjalan lancar.

Yah, bagaimanapun yang namanya manusia hanyalah dikaruniai Tuhan akal yang picik, tak mampu menembus ranah kosmos yang terlalu rumit. Se-nggethu-nggethu-nya manusia untuk mencari jati dirinya, aku percaya bahwa tak ada yang sanggup menemukan total siapa dirinya.

Mungkin jalan yang kuambil telah benar. Hidup dengan mengalir mengikuti keadaan, walaupun masih membawa hati yang penasaran. Kan kujalani dengan terus bermohon kepada Tuhan


Responses

  1. sudah cukup jelas siapa diri kita dan apa kewajiban kita, sudah cukup untuk berpikir ‘siapa aku?’, saatnya bertindak. kalau sudah punya rencana dan tujuan lakukan apa yang bisa dilakukan, kalo belum mo langsung bertindak atau berencana dulu, itu tergantung diri masing2.
    membandingkan diri? ya, tiap diri kita adalah istimewa, tidak akan ada yang menyamai dari kombinasi fisik, sifat, latar belakang, pemikiran dll.
    Jati diri? bagaimana bisa tau jati diri? jangan cuma memikirkan, cobalah dan bertindak, kamu akan menemukan jati diri. sepanjang umur, kita akan selalu mencari, menemukan, mencari dan menemukan siapa diri kita, karena semua bisa berubah….. (mudeng ra? nek ora kpn2 wae ngobrol, dirimu tak pernah nampak?)

  2. “are u joking?” mungkin kalimat itu pantas buat kamu. Aku setuju sama mbokdhe. Kalo kamu cuman begitu terus, gmn bisa ngga “krisis identitas”?
    Kalo aku boleh menilai, kamu tuh ngga pantas menjadi manusia!!(sory klo terlalu keras) Knp? Lihatlah dirimu. Sebentar2 “menciut”. Bukankah aku sudah sering bilang ke kamu. Klo kamu mau sini biar aku ajari menjadi seorang cowok bukan sekedar “cowok”.
    Jujur aja. Secara akal kamu itu sudah sesuai dg predikatmu sbg mahasiswa. Tapi mentalmu?? Patut dipertanyakan.(sekali lagi terpaksa menyerang penulis)
    Ya mungkin kmu bisa berlindung di balik kalimat “no body is perfect”. Tp bagaimana klo suatu saat perisai “no body is perfect”-mu pecah??

  3. ikut-ikutan nanya ah, siapa saya? Jonstein Garder dengan Dunia Sophi nya menjelaskan siapa saya dengan berbelit-belit.
    ups! da pa ne? kok kacau banget kayaknya?

  4. >nuha85
    Hidup tak hanya untuk bekerja, Mbakyu… Adakalanya hidup itu untuk merenung, evaluasi diri…
    Tindakan? Rencana? Tujuan? Bukankah semuanya sudah jelas…?
    Tak pernah menampak? Ya ini, apa…

    >Malecious Genius
    Memang, kalau Tuhan mengizinkan sekali lagi untuk memilih, pasti aku akan memilih menjadi selain manusia…

    >mezzalena
    Sedang ada masalah diri yang serius…

  5. sedang mencari jati diri yach? biasa kalo lagi puber emang gitu dik! ntar kalo masa puber ketiga– keempat juga bakal gitu lagi…. lihat aja.

  6. Gimana klo kmu menjadi tuhan aja?? Jadi biar kamu bisa nentuin semuanya sesuka hatimu.

  7. yah…tidak ada kalimatku baik yang secara implisit atau eksplisit menyatakan ‘hidup hanya untuk bekerja’. Bertindak! ‘Jangan CUMA dipikirkan bukan berarti nggak mikir sama sekali’. Merencanakan bukan juga tanpa evaluasi, bodoh banget orang merencanakan tanpa mengevaluasi apa2 yang dah dialaminya dulu.

    Bersyukur atas keberadaan diri sendiri memang butuh proses dan waktu yang mungkin tidak singkat, tapi ada banyak cara agar kita bisa sampai pada titik ‘syukur’.

    Kita tidak akan merasa bahagia kalau mau bahagia kita harus menunggu ini itu. SEKARANG adalah saat yang paling tepat bagi kita untuk berbahagia, untuk mensyukuri keberadaan kita sebagai manusia, sebagai ‘aku’.

  8. –>>> resi
    sampeyan udah puber yang ke berapa?? hehehe, maap lagi iseng. biar wajah yang baca tulisan ini nggak pada….

  9. Apa yang kamu rasakan, pernah juga -dan mungkin masih- aku rasakan.

    seringkali aku berpikir, ‘You just have no idea what i’ve been trough, so you have NO RIGHT AT ALL to judge me..apakah saya cengeng, lemah, etc..kalian semua nggak ada yang tahu, what’s the thing i faced every single day!’

    tapi setelah beberapa saat kemudian -seperti yg saya sudah katakan sebelumnya-, kalau setiap manusia punya cobaannya sendiri-sendiri.

    ikhlas aja, yang sabar, jangan pernah lelah untuk berdoa, and keep positive thinking, okey.

    everything will be fine, its gonna be okey. .setelah badai selalu ada hari terang bukan? keep optimist!

    jangan sedih yaaaa…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: