Oleh: Arif Budiman | Jumat, 9 Mei 2008

Nasionalisme Kita? Mana???

Setelah istirahat sambil nonton TV selama hampir setengah bulan, akhirnya bisa menyentuh komputer juga meskipun masih juga bukan komputerku sendiri😛 . Selama istirahat atau bisa disebut hibernasi (seperti beruang kutub saja, pakai hibernasi segala:mrgreen: ), aku menemukan banyak hal yang menjadi buah pikiran saya. Nah, lo… Tidak bisa dibilang hibernasi kan? Soalnya kalau hibernasi kan kerjanya makan – tidur saja…🙂

Salah satunya terjadi saat  hari… (LUPA DING…:mrgreen: ). Saat itu sedang panas dan ingin rasanya minum es kacang hijau buatan ibu kantin (dan atau bapak kantin? Halah…:mrgreen: ). Aku kaget, soalnya saat itu tumben-tumbenan kantin ramai sekali. Aku pikir ramainya karena ada kebakaran, eh bukan, mahasiswa baru yang diterima jalur PMDK yang masuknya pakai duit seabreg yang mau daftar ulang. Eh, ternyata dugaanku salah. Ternyata ada kampanye calon presiden BBM… Bukannya Taufik ya, yang terpilih sebagai presiden BBM sepanjang masa? Eh, salah ding. Bukan BBM tetapi BEM. BEM-nya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (aku mau protes ke Depdiknas, apa tidak diganti saja nama ITS jadi NOVEMBER sesuai dengan kaidah serapan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Masakan salah terus dipertahankan? Eh, kok malah membahas nama ITS, lanjut lagi ah…:mrgreen: ). Tapi, tidak sampai menyurutkan niatku untuk minum es kacang hijaunya ibu dan bapak kantin. Kan, enak tuh, minum es kacang hijau sambil disuguhi tontonan…:mrgreen:

Eh, saat sedang enak-enaknya minum, masih separuh habisnya, eh ternyata ada salah satu calon yang mengajak semua pengunjung kantin berdiri, walaupun tidak semuanya ikut berdiri termasuk aku, untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya ciptaan Bapak Besarku Wage Rudolf Suparman, eh, Supratman. Aku sih, tak acuh saja. Males paa, sedang enak-enaknya duduk makan es kacang hijau kok disuruh berdiri…

Tapi bukan masalah rasa es kacang hijaunya ibu dan bapak kantin yang mau kubahas. Apalagi membahas Pak Suratman, eh, salah lagi, Su-prat-man. Masalah “Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dengan Birama 4/4” itu loh… Yang membuat aku tidak enak badan sampai-sampai berhibernasi selama setengah bulan… Oh, bukan ya…😛

Di sini aku mau menyorotinya sebagai sebuah permasalahan yang besar bagi bangsa ini. Menyanyikan lagu kebangsaan di ajang seperti itu sangat marak belakangan-belakangan ini. Dengan dalih: NASIONALISME! Wah, tidak habis pikir aku. Nasionalisme ya… Hmm… Atau memang “berkedok sok nasionalis supaya mendapat suara yang banyak”??? Ah…

Dalam  kenyataannya, nasionalisme kita semakin lama semakin pudar. 100 Tahun Kebangkitan Nasional hanya tak ubahnya slogan dan motto tanpa arti, yang dibuat hanya untuk memuaskan syahwat rakyat untuk menandingi Malaysia dalam promosi pariwisata. Tapi esensinya???

Lagi, bahasa kita semakin lama juga semakin tidak diminati oleh semuanya. Terus, apa penghargaan terhadap Soewandi dan Tim Perumus EYD yang dengan susah payah membuat aturan kebahasaan hingga bahasa kita diakui sebagai bahasa resmi negara Indonesia oleh PBB? Dan kita dengan seenaknya saja menggantinya dengan bahasa yang amburadul tidak karuan seperti itu? Mana komitmen terhadap nasionalisme dalam naskah sumpah pemuda kita???

Dari 1908, menuju 1928, menuju 1945, menuju 1966, hingga sampai saat ini, nasionalisme kebangsaan kita menunjukkan kurva yang negatif. Terus saja menurun. (1945 sebagai klimaks? Apakah seandainya bukan karena kekalahan Jepang oleh Sekutu, kita bisa merdeka seperti sekarang?) Hingga titik puncaknya (lebih tepatnya: titik dasar) sekarang (dan nanti?). Seharusnya 100 tahun yang menjadi titik emas kejayaan bangsa malah menjadi bumerang sendiri bagi bangsa. Harusnya semua prihatin, atau malah tak acuh saja?

Silih bergantinya kepemerintahan juga tidak berdampak banyak kepada meningkatnya nasionalisme bangsa. Secara ya, banyak pemerintah kita yang lebih suka dan lebih tenteram, adhem ayem, tata tentrem, kertaraharja, gemah ripah loh jinawi, jika menggunakan produk luar negeri. Lah, kalau seperti itu, bagaimana?

Ya, sudah. Cukup dengan semuanya. Semoga tidak ada lagi yang menggembor-gemborkan nasionalisme. Semuanya bagiku sudah mati.


Responses

  1. tenang bos, sebentar lagi kita akan mengalami titik tertinggi harga BBM bangsa ini.

    gak tau ini temasuk kebangkitan (harga) nasional kali ya…🙂

  2. Ini konsep tentang nasionalisme modern … yakin ini solusinya kalau diajarkan diseluruh Nusantara. Tautologous adalah satunya kata dengan perbuatan termasuk pesan Mantan Presiden kita Chech and Recheck
    http://nemu.wordpress.com/2008/03/24/khayalan-identitas-1/

  3. ya sudah mati..
    semoga hanya mati suri..

  4. DUKUNG TIM THOMAS DAN UBER INDONESIA!!!

  5. bukankah kita hidup diatas slogan?

  6. >mybenjeng
    Hehehehe… Iya kali…

    >herman
    Setugu…!!!

    >hanggadamai
    Semoga saja…

    >indra1082
    Ye, Thomasnya kalah ding (tidak tahu Ubernya, tadi soalnya tidak nonton:mrgreen: )

    >peyek
    Hidup di atas bumi, kali…

  7. Aku mung NGILER wae karo Es Kacang Ijone, opo meneh lagi panas-panas koyo ngene iki.

    Myodhorin gelas

  8. Nasionalisme? Makhluk apaan tuh…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: