Oleh: Arif Budiman | Rabu, 4 Juni 2008

Islam = Kekerasan?

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 1 Juni 2008 atau bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila, terjadi insiden yang sangat memalukan saya sebagai umat Islam. Bagaimana tidak, organisasi yang membawa nama Islam, yang seharusnya bisa mencitrakan jati diri Islam yang sebenarnya yakni anugerah bagi semesta (rachmatan li’l-Âlamïn(i)), berlaku tak senonoh dengan mencederai saudaranya sesama umat Islam yang lain hanya karena perbedaan keyakinan. Ya, hanya karena perbedaan keyakinan saja harus ditebus dengan sebuah pertumpahan darah sesama saudara seiman. Padahal, kalau ditilik Kitab Sucinya dapat dikutip: “Bahwa untukmu keyakinanmu dan untukku sendiri keyakinanku” (Al-Käfirün:6). Orang berkata apapun, wajar lah kalau tidak sampai menyinggung ranah hak pribadi kita. Lah, setiap orang dianugerahi oleh Tuhannya mulut untuk berbicara kok…

Dan yang saya sesalkan adalah hanya karena masalah yang menurut pandangan saya sangat sepele, kontroversi mengenai Ahmadiyah. Bukankah semua sebenarnya sudah jelas diungkapkan oleh Baginda Nabi kita tercinta Muhammad SAW: “Pengikut Yahudi nantinya pada masa penghabisan akan terpecah menjadi 71 golongan, dan pengikut Nasrani akan terpecah menjadi 72 golongan. Sedangkan pengikut agamaku sendiri akan terpecah menjadi 73 golongan. Kesemuanya akan celaka kecuali satu, yakni yang berada di bawah naunganku dan para sahabatku”. Nah, jelas kan? Toh kita juga tidak mengerti apakah keyakinan yang kita ikuti itu akan membawa kita ke dalam golongan yang selamat atau malah kepada 72 yang celaka. Jadi, janganlah menghakimi bahwa keyakinan orang lain itu salah, siapa tahu malah sebaliknya…

Selama ini, banyak sekali sudah orang Islam yang cenderung membolehkan segala cara demi “memaksakan” keyakinan yang dia ikuti kepada orang Islam yang lain. Lihat saja, bagaimana dulu Jaringan Islam Liberal (JIL) harus mati-matian dicaci dan didamprat oleh massa yang merupakan golongan Islam “radikal”, bahkan difatwa kehalalan untuk membunuhnya. Juga dahulu jamaah Ahmadiyah dibakar habis masjid dan rumahnya oleh massa karena dianggap “meresahkan” masyakarat… Belum lagi yang baru ini, insiden Monas, yang menumpahkan darah hingga 70-an orang akibat penyerangan demonstran AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) oleh FPI… Masyaallah… Bagaimana tidak, orang Barat mengecap orang Islam sebagai teroris, karena kenyataannya banyak masyarakat kita memang seperti itu… (bukti: lihat tayangan film Fitna buatan seorang warga Belanda)

Yah, begitulah potret Islam sekarang, yang lebih banyak mengandalkan “kekerasan fisik” daripada “pikiran yang jernih” dalam menghadapi sebuah permasalahan. Yang jadi tugas kita semua sekarang adalah mengembalikan orang Islam menjadi rachmatan li’l-Âlamïn(i), bersikap sebagai pengayom bagi semua bangsa, terutama sekali bagi sesama saudara seimannya sendiri. Kembalikan citra bahwa Islam tidak mancintai kekerasan, dan Islam cinta perdamaian, hingga tidak akan timbul citra seperti yang terfilmkan dalam Fitna lagi…


Responses

  1. banyak yg termakan provokasi sang pembuat skenario, dalang dari semua ini,,,
    yang ingin adanya perpecahan

  2. jadi kangen A’a Gym neeh…

  3. Wallahua’lam..
    Segala kebaikan dan keburukan tergantung niat dihati nuraninya…

  4. Baginda Nabi kita tercinta Muhammad SAW: “Pengikut Yahudi nantinya pada masa penghabisan akan terpecah menjadi 71 golongan, dan pengikut Nasrani akan terpecah menjadi 72 golongan. Sedangkan pengikut agamaku sendiri akan terpecah menjadi 73 golongan. Kesemuanya akan celaka kecuali satu, yakni yang berada di bawah naunganku dan para sahabatku”

    bukankah mereka juga mengaku termasuk yang satu itu

  5. > hanggadamai
    Iya… Dan banyak juga yang terprovokasi mengomentari postinganku… Hehehehe…:mrgreen:

    > mybenjeng
    Aku kok malah kangennya sama Teh Ninih (Lho, kok? Heheheh…:mrgreen: )

    > indra1082
    Bukankah sudah tertulis: Innama’l-A*malu bi’n-niyaati, betul tidak? (Hehehe, ingat AA Gym malahan, kaya yang diomongkan Cak Pii…:mrgreen: )

    > peyek
    Yup, dan anehnya mereka “seneng tawuran” seakan-akan Nabi juga suka yang gituan…

  6. Rubrik ini bertajuk “Islam = Kekerasan?”. kalau yang ditampilkan seperti yang diurai dalam rubrik ini – PERISTIWA PENYERANGAN OLEH KELOMPOK TERTENTU TERHADAP KELOMPOK LAIN -, jawabnya adalah “YA”. apa boleh buat. menyakitkan memang. tapi mana kala yang ditampilkan sebaliknya dari apa yang diurai dalam rubrik ini, jawabnya barangkali “NANTI DULU”. mengapa demikian.
    jujur saja, kita tidak bisa menyalahkan saudara kita yang menyerang sepenuhnya. mereka melakukan itu jelas memiliki alasan seperti yang selama ini juga berulang mereka katakan untuk menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar. paling tidak mereka merasa melakukan itu karena melaksanakan “perintah agama” yang mereka yakini. artinya “perintah” itu memang ada. saya merasa sangat prihatin! persoalannya adalah, pertama, apakah perintah yang mereka bawa tersebut benar sesuai dengan konteks ketika wahyu itu turun? saya kira kita perlu meninjau kembali dan berpikir lebih jauh. saya tidak berani memberikan pandangan apa pun kecuali saran untuk lebih jauh dan dalam merenungi apa makna semua itu.
    kedua, seperti yang diurai dalam rubrik ini juga, bahwa berbagai kaum bakal terpecah dalam begitu banyak golongan sementara yang benar hanya satu. mestinya berdasar “ngendika” Nabi, orang tidak perlu bersitegang siapa dan mana yang paling benar. mana yang paling bersih dan sesuai dengan Kehendak Yang Di Sana. biarlah risiko ditanggung “penunmpang”. kalau itu tetap harus dipertentangkan, bagaimana kita mesti menyikapi apa yang pernah ditulis Prof. Azyumardi Azhra (maaf bila ada kesalahan dalam menulis nama beliau, dulu Rektor IAIN di Jakarta) dalam harian KOMPAS beberapa tahun lalu yang mengatakan bahwa Al Qur’an ternyata ada sejumlah “versi” (15?). silakan cari dan baca KOMPAS tahun 2003/2004-an (maaf saya lupa). yang pasti, kita bukanlah orang yang secara langsung menerima wahyu Yang Dari SANA, apa lagi pemberi wahyu. artinya, kita semua dalam posisi yang kurang lebih sama. sebagai penafsir atas segala yang terdapat di dalam wahyu. PENAFSIR! artinya, setiap penafsiran, apa lagi cuma dilakukan oleh manusia yang kebak kekurangan, selalu mengandung potensi ketidaktepatan. tidak ada jaminan bahwa penafsiran kita yang paling benar, karena kita bukan yang menerima “dawuh” langsung dari yang di SANA. akibatnya, klaim bahwa kita yang benar bisa dipandang sebagai pelecehan terhadap YANG MAHA AGUNG, karena kita sudah mendudukkan diri sebagai yang punya otoritas terhadap kebenaran wahyu.
    ketiga, sejak lama manusia tahu bahwa wahyu (baca agama) diturunkan untuk membantu memberi kemudahan bagi hidup manusia. artinya, agama untuk kehidupan manusia. manusia menjadi sentral “mega proyek” YANG DI SANA. jangan main-main! dengan wahyu, diharapkan manusia bisa mendapatkan keselamatan. dengan wahyu agar manusia mendapat arah dalam kehidupan. jadi, mestinya agama untuk kehidupan manusia. pertanyaannya adalah, apakah yang diilustrasikan dalam rubrik ini sudah seperti ini. agama untuk manusia dan bukan manusia untuk agama? silakan mencari jawab sendiri-sendiri (lagi-lagi perlu ditafsirkan).
    ah … bingung saya! maaf, dangkal pengetahuan agama saya. meski demikian saya percaya kalau manusia diberi pikiran ya untuk berpikir dan bersikap kritis. itu identitas utama manusia – di samping budaya – yang tidak dimiliki oleh makhluk lain di bumi ini. oleh sebab itu saya hanya bisa mengajak, ayolah kita renungkan kembali apa saja yang ada di sekeliling kita. bagi saya adalah lebih baik bagaimana memerangi kemiskinan, kebodohan, ketertindasan, keterpinggiran dan segala sesuatu kebobrokan yang menindas saudara kita secara nyata ketimbang sekadar berebut mana yang paling benar tapi tanpa karya yang membuahkan kebahagiaan, kegembiraan, kedamaian dan segala sesuatu yang indah dalam kehidupan ini.
    hidup ini adalah kenyataan dan sekarang. nanti dan esok sangat bergantung terhadap apa yang kita kerjakan dan lakukan sekarang. kalau ingin memanen padi, tanamlah padi. kalau ingin memanen kelapa ya tanamlah buah kelapa. saya percaya “WONG NANDUR BAKAL NGUNDUH”.
    mari kita renungkan bersama. GBaU. salam.

  7. Kitab-kitab dalam Islam memang paling komplet. Ada ayat yang lembut tapi ada juga ayat yang keras. Ayat2 lembut dan penuh kesabaran muncul saat Muhammad masih berada di Mekah (sebelum hijrah). Ayat2 keras muncul belakangan setelah Muhammad hijrah ke Madinah dan sudah kuat, mempunyai massa banyak.

    Untuk menunjukkan bahwa islam agama DAMAI, kita bisa menyitir ayat-ayat yang lembut / tidak ada kekerasan.
    contoh :
    QS 2:256 Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)
    QS 73:10 Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.
    QS 109:6 Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku
    QS 20:130 Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu
    QS 2:83 ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.
    QS 10:99 Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?
    QS 50:45 Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka
    QS 29:45 Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-
    orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri
    QS 2:62 Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran
    terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka
    bersedih hati.
    QS 7:199 Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.
    QS 15:85 maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik….
    QS 6:108 Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
    Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.
    Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan
    QS 43:88,89 Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman”. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk)
    QS 50:45 Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka
    QS 16:90 Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
    QS 45.14 Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

    Al Qur’an juga menyediakan AYAT2 KERAS, seperti :
    QS 9:123 Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu
    QS 8:12 Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka
    QS 3:85 Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
    QS 2:191 Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu
    QS 9:5 bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka
    QS 2:193 Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah
    QS 9:14 Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman
    QS 9:29 Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
    QS 9:30 Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
    QS 9:28 Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini
    QS 14:16 di hadapannya ada Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah.
    QS 3:61 Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.
    QS 47:4 Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka.
    QS 8:65, Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir
    QS 3:28 Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi teman atau penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).
    QS 8:60 Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu.

    Jadi kesimpulannya, kenapa Islam identik dengan kekerasan?
    Karena Osama Bin Laden, Abu Nidal, Amrosy cs, FPI dll menganggap ayat yang turun berikutnya adalah ayat yang lebih up to date dan lebih wajib diikuti. Ibaratnya peraturan yang baru harus lebih ditaati daripada peraturan lama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: