Oleh: Arif Budiman | Sabtu, 26 Juli 2008

“Hanya Barang Sepele…(?)”

Beberapa kali aku kecewa (lebih tepatnya: dikecewakan) oleh beberapa orang. Dan, ya. Banyak yang menganggap apa yang menjadi kekecewaanku itu adalah “barang sepele” yang seharusnya tidak usah lagi dibahas atau dipermasalahkan. Tetapi tidak buatku.

Ya, memang standar baku barang sepele atau tidaknya suatu hal masih kabur, bergantung kepada diri pribadi masing-masing. Namun, tak harusnya menggeneralisasi bahwa barang yang menurut kita sepele adalah sepele juga bagi orang lain.

Contoh nyata: Aku mempunyai sebuah ikat pinggang. Dilihat sekilas, ah, hanya sebuah ikat pinggang. Biasa, bukan barang yang khusus. Salah seorang temanku meminjamnya, dan sampai saat ini (sudah hampir kira-kira delapan bulanan atau lebih) masih saja belum dikembalikan. Ya, lupa lah, alasannya. Ya, ketinggalan lah. Ya, berkarat lah. Ah, bull shit semua.

Yang mungkin tidak dia ketahui adalah ikat pinggang itu sangat berharga bagiku. Memang bila dilihat, itu barang sepele. Ikat pinggang saja dipermasalahkan. Namun, bukan ikat pinggangnya sebenarnya yang menjadi permasalahanku untuk berberat hati terhadap ikat pinggang tersebut. Kenangan, ya, kenangan yang dulu aku dapatkan selama memakai ikat pinggang tersebut. Mulai dari perjuangan untuk mendapatkan setelan seragam (termasuk ikat pinggang tersebut) yang sangat susah, hingga kejadian diberdirikan di depan upacara bendera gara-gara tidak membawa ikat pinggang itu. Ya, dan semua kenangan itu masih terekam dengan jelas di otakku, dan tak ingin aku untuk kehilangan seberkas kenangan yang indah tersebut. Seperti itu.

Contoh lain: Aku dulu sering tidak mau menghabiskan makananku, hingga selalu ada yang tersisa. Beberapa kali Emakku menyuruh aku untuk menghabiskan makananku, aku tetap saja tidak mau. (Dasar bandel ya:mrgreen: ) Hingga Emakku kadang membujukku dengan perkataan, “Àyo nhàng dièntêkna. Mbhàthi bàrokàhé dipangan pitìk…” Yah, meskipun begitu aku tetap saja tidak mau.

Sampai suatu saat aku tahu. Bahwa memang butuh perjuangan untuk mencari selahap makanan. Ya, dari pekerjaan orang tuaku yang petani. Bayangkan, selama setengah tahun berkutat dengan teriknya matahari, dinginnya embusan angin penghujan, tak enaknya bermandikan lumpur dan gatal miang rerumputan, hama pertanian yang datang tak diundang, hingga akhirnya menghasilkan bulir-bulir padi yang menguning, siap untuk dimakan. Itu selalu terbayangkan di mata. Apalagi juga bila mengingat banyak orang yang makan nasi aking (dan bahkan ada beberapa yang mati karena kelaparan dan busung lapar) saat masa krisis moneter lalu. Ah, aku bersyukur, Tuhan! Semua makanan ini tersedia berkat bantuan beberapa orang, yang susah payah menanam padi hingga tumbuh bulirnya dan bisa aku makan… Hingga mulai saat itu aku tidak lagi menyisakan makanan sedikit pun, karena aku sadar akan kesusahan sang penanam. (Dan juga, sebagai wujud syukur kapada Tuhan tentunya🙂 )

Jadi, lebih baik berhati-hati jika menganggap sebuah barang adalah sepele, karena yang sepele buatmu, adalah mungkin tidak sepele buatku. Camkan!


Responses

  1. Rif, jadi terharu baca blogmu. . .
    btw gimana, IP-mu apik?
    sukses ya. .

  2. >indrapamungkas
    Apanya yang bikin terharu???👿
    IP-ku… Mmm… No comment lah Mas…

  3. sepele atau gak sepele memang relatif..

  4. Yang sepele itu kadang2 bertele-tele….

  5. iya nich, aku udah banyak menganggap hal sebagai hal yg sepele, mudah2an bisa merubahnya seseger amungkin. thanks bro, FYA

  6. betul tuh jangan anggap sepele…

  7. mana karya terbarunya?kok lama tak muncuuul
    eman doong bila gak dimunculin…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: